Timbrah dan budaya Babi gulingnya




Desa Timbrah adalah sebuah didesa yang masuk dalam sekelompok desa di Karangasem yang masih kental dengan adat Bali Aga nya. Desa ini masuk dalam Kelurahan Pertima, yang merupakan deretan 3 desa yakni, Perasi, Timbrah & Asak.

Masing-masing desa mempunyai tradisi, adat istiadat dan buday yang hampir sama. Mereka dapat dikatakan masih dalam satu paiketan, dan masih berkaitan dengan desa Bugbug dan Bungaya.



Desa Timbrah terdiri dari 4 pauman dan 5 banjar, dimana mayoritas mata pencaharian penduduknya bekerja sebagai petani dan pedagang. Namun tidak berarti penduduk desa ini tertutup dengan kemajuan teknologi dan perkembangannya. Kebanyakan dari generasi muda mereka sudah merantau keluar desa, mencari ilmu dan pengalaman baru tanpa pernah melupakan adat dan budaya yang selama ini menjadi ciri khas desa mereka. Kegiatan upacara yadnya yang sudah menjadi ciri khas desa ini masih tetap dipertahankan dari tahun ketahun, tentunya tanpa menghilangkan seni kesakralan dari makna upacara itu sendiri.




Kalau kita ungkap lebih jauh, akan terdapat banyak sekali rentetan kegiatan sakral, aci, piodalan dan usaba yang ada di desa ini. Dari upacara yang skalanya kecil semisal purnama maksan, tilem, pikan daa, pikan truna, anggarakasih, buda wage klawu, tumpek krulut, aci galungan dan kuningan berserta rentetannya, usabe dalem sampai skala yang paling besar yaitu Usabe Sumbu. Semua masih dipegang dan dilaksanakan sampai sekarang. Begitu banyak nilai budaya yang ada didalamnya, termasuk keunikan bentuk sarana upacara, mekanisme, maupun bentuk pelaksanaanya sendiri. Semua masih sangat unik dan belum tersentuh oleh kemodernan jaman sekarang.


Namun diantara sekian banyak budaya dan keunikan yang ada di desa Timbrah ini, ada satu hal yang dapat dikatakan menjadi trade mark bagi desa ini sendiri, yaitu Usaba sumbunya dengan sarana utama Babi guling.





to be continued.....

0 komentar: